Aqiqah Anak Dewasa

Mungikin banyak pertanyaan terbesit dalam benak anda yang bagaimana jika putra/putri anda belum diaqiqahkan atau bahkan anda sendiri belum diaqiqahkan oleh orangtua anda. Lalu bagaimana untuk melaksanakan ibadah tersebut? Ataukah kewajibannya tetap pada orangtua hingga dewasa? aqiqah yogyakarta

Tentu hal tersebut terjadi karena beberapa hal diantaranya, kondisi perekonomian keda orangtua bisa dikatakan tidak cukup untuk membeli hewan aqiqah, atau mereka memiliki kecukupn rejeki yang bisa dikatakan mapan namun selalu menunda-nunda beraqiqah karena alasan waktu.

Berdasarkan anjuran Nabi Muhammad Rasulullah Saw “Bersama anak laki-laki ada akikah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan) & bersihkan darinya kotoran (maksudnya cukur rambutnya).” (Hadist Riwayat. Imam Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Walaupun memang dalam pelaksanaan aqiqah dianjurkan pada hari ke tujuh,empat belas atau ke dua satu kelahiran seorang anak. Selain itu, namun apakah benar kenyataannya seperti itu? Apakah boleh seorang anak yang sudah dewasa boleh mengakikahkan dirinya sendiri? Tentu hal ini diperbolehkan apabila anak tersebut sudah memiliki penghasilan yang cukup tidak hanya untuk mengakikahkn dirinya namun juga menafkahi anggota keluarganya. Sebagaimana contohnya dalam pelaksanaan zakat maka setiap individu yang kurang mampu atau miskin tidak diwajibkan untuk memberikan zakat, justru merekalah yang seharusnya menerima zakat.

Untuk melaksanakan aqiqah terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yakni kesiapan seorang individu atau orang tua dlam beraqiqah ataupun mengakikahkan anaknya dalam berbagi kepada oranglain. Dalam artian anjuran dalam melaksanakan ibadah aqiqah sangat bertumpu kepada orangtua sebelum anak tersebut baligh.

Lalu apakah sah jika ada orang  yang menyedekahkan hewan aqiqahnya kepada orang lain? Pada dasarnya dalam beribadah aqiqah merujuk pada satu komitmen keikhlasan dan kelapangan hati dalam memiliki sesuatu yang berharga kemudian disedekahkan kepada oranglain sebagai tujuan dalam memberikan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Sama halnya dengan pertanyaan diatas, seseorang diperbolehkan menerima hadiah atau menghadiahi hewan untuk diaqiqahkan oleh orang yang telah Ia kehendaki. Juga berlaku pula kepada orang yang diberikan hewan aqiqah tersebut dapat meneimanya dengan kelapangan hati dan digunakan sebenar-benarnya hanya untuk aqiqah tidak untuk dijual atau tidak untuk hal-hal yang mengandung syirik.

Leave a Reply